Tuesday, January 13, 2015

Pengiring Jenazah di Balik Bayang-Bayang Kematian

Saya memacu dengan santai sepeda motorku menyusuri jalan-jalan kembali kerumah. Panas matahari sudah bersahabat karena hari mulai senja. Asap kendaraan mengepul diiringi bunyi klakson yang bersahutan membentuk irama yang setiap saat dapat memecahkan gendang telingamu atau siapa saja yang mendengarnya. Kendaraan saling menyerobot untuk mendahului, tidak ada yang mau mengalah. Seorang lelaki berbadan besar dengan perut agak buncit dibalut jas hijau menyala hanya tanpak kebingunan. Bunyi peluitnya yang tidak teratur sudah cukup menjadi gambaran kebingungannya. Sebuah pemandangan lazim bagiku, terjebak macet ketika pulang kampus. Itu hanya berlaku di kotaku. Kota dimana sipakatau dan sipakala'bi mulai pupus termakan usia. Mungkin pada waktu macet saja. Entahlah.
Di tengah macet yang semakin parah, dimana kendaraan sambung menyambung membentuk ular raksasa yang tergeletak di punggung jalan tak bergerak, perhatian saya tiba-tiba berubah. Suara sirine ambulans dengan iringan klakson motor dan suara knalpot bogar terdengar semakin mendekat. Sehelai kain putih yang terikat di sebilah bambu diayung-ayungkan oleh seorang pengendara. Saya pun berkesimpulan "innalillahi wa inna ilaihi rajiun".
***
Semua kendaraan memaksakan diri untuk menepi untuk memberikan jalan bagi sang ambulans. Bisa jadi ini sebagai penghormatan terakhir buat si mayat dengan alasan kemanusiaan. Atau mungkin karena pengguna jalan sangat mengerti tentang ajaran Nabi SAW untuk menyegerakan pelaksanaan jenazah. Entahlah, ini sudah sering terlihat dalam keadaan yang sama.
Ceritaku tak cukup sampai di situ, masih banyak bagian lain yang tidak kalah menariknya. Gerombolan pengiring mobil jenazah sepertinya terlihat aneh. Berboncengan tiga, knalpot besar, tidak memakai helm, dan masih banyak atribut lain yang mungkin kita harus sepakat menjadikannya atribut pengiring mobil jenazah. Setelah mobil jenazah lewat, maka kendaraan yang terjebak macet tadi akan segera mengekor dengan menyalakan lampu kendaraan. Ini juga harus dimasukkan sebagai tanda pengiring mobil jenazah. Begitulah cerita kematian di kotaku.
***
Yang ingin saya tanyakan, apakah pisau hukum itu terlalu tumpul ketika terjadi keadaan seperti ini. Bagaimana jika pengiring mobil jenazah tersebut terjatuh dari motor dengan kecepatan melebihi mobil ambulans? Apa yang terjadi dengan kepala mereka yang tidak terlindungi helm? Atau bagaiamana keadaan mereka yang sakit gigi mendengar bunyi klakson dan knalpot motor pengiring mobil jenazah tersebut?
Kematian memang selalu mengintai kita setiap saat dan dimanapun. Akan tetapi, apakah semudah itu kita menyerahkan jiwa kita kepada kematian? Jika pembiaran seperti ini terus dilakukan, maka kita akan selalu membuat alasan bahkan menciptakan keadaan untuk melawan hukum terlebih melanggar aturan yang telah diciptakan Tuhan.
Semuanya berawal dari kita, bagaimana kita mengambil langkah pertama. Menirukan atau membuatnya lebih bijak.

No comments:

Post a Comment

Baca Juga

Cara Menghemat Data WhatsApp

Panduan WhatsApp   Cara Menghemat Data WhatsApp . Siapa sih yang tidak tau aplikasi chatting whatsApp? Aplikasi ini sudah tembus ha...