Sunday, June 8, 2014

Pemimpin Idaman



Pemimpin dalam Kacamataku
Sudah enam puluh delapan tahun lamanya kita menikmati masa kemerdekaan. Terbebas dari penjajah dan penindasan yang mereka lakukan. Akan tetapi sadar atau tidak, sebagian besar masyarakat kita seolah menjadi turis di negeri sendiri. Masalah ekonomi, sosial, maupun politik sering kali menghantui mereka.
Semua permasalahan bangsa kita yang datang silih berganti sangat berbanding lurus dengan kemampuan seorang pemimpin dalam membawa kapal yang bernama Indonesia ini. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah, apakah selama ini kita salah dalam menentukan pemimpin? Tetapi dengan melihat melihat realita yang terjadi, sepertinya kita betul-betul membutuhkan pemimpin untuk bangsa ini. Ironisnya sempat beredar provokasi yang mengatakan bahwa
“Sukarno membuktikan bahwa pahlawan bisa menjadi pemimpin”
“Suharto membuktikan bahwa anak petani bisa menjadi presiden”
“Habibi membuktikan bahwa teknokrat bisa menjadi pemimpin”
“Gusdur membuktikan bahwa ulama bisa menjadi pemimpin”
“Megawati membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin”
“SBY membuktikan bahwa kita tidak membutuhkan presiden”.
Hal-hal seperti ini tentu tidak muncul begitu saja. Ibarat asap tidak akan muncul tanpa ada api. Hal ini paling tidak sebagai sinyal bahwa negara ini betul-betul butuh pemimpin. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah, bagaimana pemimpin yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini? Nah hal itulah yang ingin sedikit saya angkat pada kesempatan kali ini.
Dua kandidat pemimpin kita saat ini dikatakan sebagai calon ideal dalam membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Setiap kandidat mengklaim bahwa merekalah yang paling pantas memimpin kita untuk membangun bangsa ini. Hal yang biasa kita dengar lima tahun sekali. Sayangnya suka atau tidak hanya satu di antara mereka yang akan terpilih.
Dalam islam Allah memerintahkan kita dalam memilih pemimpin hendak mendahulukan dua kriteria. Dua kriteria yang dimaksud ialah amanah dan kuat. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Qashash yang berbuyi: 
“karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".
Permasalahan sekarang ialah, kita sangat sulit mencari pribadi yang kuat lagi dipercaya atau amanah. Dan semoga kedepannya akan datang pemimpin yang kita  dambakan bersama.
Selain itu, sepertinya pemimpin kita selama ini alpa akan satu hal. Apa itu, mereka lupa memasukkan pengembangan sumber daya perempuan dalam daftar visi misinya. Yang selalu digaungkan ialah pendidikan, ekonomi, militer, dan permasalahan lainnya. Pembangunan sumber daya perempuan hanya menjadi visi tersirat bagi setiap kandidat. Padahal perannya nanti tidak diharapkan tersirat.
Kenapa saya katakan demikian. Karena perempuan memegang peranan penting dalam membangun negara kita ini. Memang tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi jika kita membuka lembaran sejarah, perempuan pernah memberikan andil yang besar dalam perjalanan bangsa ini. Terakhir sejarah mencatat ketika GERWANI menjadi poros penting dalam pemerintahan Soekarno. Dan jelas bahwa saat itu Indonesia dikatakan macan Asia. Akan tetapi setelah itu, Indonesia makin terpuruk dan kita semakin tertatih hingga masa reformasi ini. Hingga tak salah jika orang-orang menjuluki negara kita sebagai komodo Jablay.
Rasul telah memberikan resep bahwa perempuan adalah tiang sebuah negara, jika perempuan itu baik maka baiklah negara itu, begitupun sebaliknya. Jadi yang seharusnya menjadi visi utama setiap pemimpin ialah pembangunan kualitas perempuan.
Emansipasi yang digelorakan akhir-akhir ini seperti sebuah fatamorgana. Seolah memberikan hal yang positif namun kenyataannya tidak. Perempuan yang sebelumnya hanya menjadi penikmat hasil korupsi, kini sudah banyak menjadi pelaku korupsi. Mungkin inilah dampak dari emansipasi. Padahal emansipasi mengajarkan kita bahwa perempuan dan laki-laki dicipta bukan untuk saling diadu siapa lebih maju, akan tetapi saling membantu paling tidak dalam doa penghulu bahkan dalam membangun bangsa ini.
Kasus korupsi dan dekadensi moral yang menimpa kalangan pemuda merupakan dampak dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap perempuan. Seandainya ada sosok perempuan yang hebat di samping seorang pemimpin, maka bangsa ini akan sepi dari kasus korupsi. Ketika seorang pemegang kekuasaan mulai tergiur dengan harta, maka perempuanlah yang menjadi hakim yang memutuskan. Korupsi atau istigfar. Tidak akan mungkin ketika seorang suami mulai pusing dengan pekerjaannya, dia akan datang ke bapaknya untuk meminta solusi, akan tetapi sang istrilah yang memberikan kekuatan. Ketika seorang mahasiswa tahap akhir mulai mulai frustrasi dengan skripsi, maka tentu tidak akan ke ayahnya, karena bisa saja uang bulanan terputus. Akan tetapi dia akan datang ke ibunya atau pacar, karena merekalah tempat kita bersandar ketika jatuh, tempat kita membasuh peluh dan mendapat semangat baru untuk hidup yang lebih maju.
Siapakah yang menemani Adam AS di awal ujiannya di muka bumi, dialah Siti Hawa. Siapakah yang menguatkan Nabiullah Muhammad SAW di awal kenabiannya, dialah Siti Khadijah. Dibalik pemimpin yang sukses pasti selalu ada perempuan yang baik dan pintar. Itulah yang perlu kita bangun sekarang.
Bahkan yang lebih ironi ialah, bangsa ini bisa saja kehilangan masa depan jika pemimpin kita tidak memberikan perhatian khusus dalam meningkatkan sumber daya perempuan. Pengembangan pendidikan hanya akan  menjadi slogan tanpa makna. Ingin meningkatkan pendidikan tetapi perempuan tidak tau mengganti popok anaknya. Ini sama saja, mau menyeberangi lautan tetapi takut ombak.
Saat ini, banyak bermunculan sekolah alam. Sekolahnya di sulap jadi hutan. Padahal ironisnya masih banyak orang sekolah di hutan butuh gedung. Kenapa,  karena dikatakan pendidikan model seperti inilah yang cocok. Mengembalikan ke alam. Akan tetapi ada hal yang kita lupa, pendidik alami yang paling cocok dan seharusnya menjadi perhatian ialah IBU.
Kenapa demikian, karena perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.
الام مدرسة الاولى, اعددتها اعددت جيل طيب الاعراق
Perempuan ialah sekolah pertama, jika kau mempersiapkannya maka engkau menyiapkan generasi yang berkualitas tinggi.
Jadi gagalnya kita dalam mempersiapkan perempuan, maka berarti gagal pula kita dalam membangun generasi penerus. Jika demikian jadinya, maka saya akan semakin ragu dengan perkataan Soekarno, berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia. Buktinya, sudah terdapat 4 lusin ABG yang tergabung dalam JKT 48, namun belum mampu membuat kumis tetangga bergetar.
Sebagai kesimpulannya, seharusnya setiap pemimpin memberikan ruang nyata dalam pembangunan kualitas perempuan. Karena mungkin seperti inilah pesan dari emansipasi itu.

Tuesday, August 20, 2013

Diaryku




8 Juli 2013
                Dewi malam baru saja menampakkan wajahnya mengantikan mentari menyinari bumi. Gemintang kembali menghias langit dengan redup cahayanya. Orang-orang menyandang sajadah hendak berangkat ke mesjid menunaikan shalat. Anehnya, saya terheran melihat mereka semua.
“Jo! Mereka mau pada kemana? Ramai begitu. Memang ada yang meninggal ini hari?” Tanyaku pada teman yang dari tadi membopongku.
“Maks! Mereka pada mau tarwih. Inikan malam pertama puasa.” Jawabnya.
“Oh maaf, saya tidak bisa bedakan mana abulan puasa mana bukan.” Jawabku sambil sedikit tersenyum. Kulihat dia hanya menggelengkan kepala.
Saya memang tidak tau mana bulan puasa. Bagiku semuanya sama. Bulan puasa pun saya tak puasa. Jadi seperti tidak ada kesan yang berbeda. Padahal saya dibesarkan di keluarga yang agamis, taat agama. Tapi entah kenapa, bisikan setan lebih sering kudengar daripada seruan Tuhan.
Kepalaku masih terasa pusing dari sisa mabuk semalam. Padahal, sudah hampir sehari saya tertidur. Johan tampak kesulitan menuntunku jalan. Dengan pikiran setengah sadar tentu membuatnya kesulitan. Tapi dia adalah teman yang hebat. Dia tetap memperhatikanku walau terkadang nasihatnya tak kudengar. Berulang kali dia menyuruhku untuk meninggalkan duniaku yang kacau ini. Judi, mabuk, tapi tidak dengan wanita. Mereka kuhargai seperti menghargai ibuku, meskipun aku adalah anak yang durhaka.
“Jo, kau tak pergi tarwih?” Tanyaku.
“Kuantar kau kerumah. Istirahatlah dulu.”Jawabnya simpel.
Rumahnyalah yang sesekali menjadi makhluk yang suci. Suci dari judi dan minuman keras. Meskipun belum membuatku menjadi orang yang yang mendirikan shalat meskipun hanya sekali.
Dia menidurkanku di kamar tamunya. Seperti biasanya, sudah tersedia segelas susu dan sepiring nasi di samping tempat tidur. Setelah itu, dia mengunci kamar untuk memastikanku untuk tidak keluar malam kembali menenggak minuman haram itu. Dan dia pun pergi bersama sitrinya menjawab panggilan adzan.
9 Juli 2013
“Maks, bangun! Sudah jam tiga”. Johan membangunkanku sambil memukul pundakku.
“Ha, tumben kau bangunkan aku jam segini?”. Tanyaku penasaran. Biasanya ketika aku mabuk dan tertidur, dia biarkan aku bangun sendiri. Setelah ia membuka pintu kamarnya sekitar jam enam.
“Ada yang ingin saya bicarakan Maks. Ikutlah denganku!” Jawabnya sambil berjalan keluar kamar.
Segera kuikuti dia. Dan dia duduk di meja makan bersama istrinya tentu saja dengan hidangan yang ada di atasnya.
“Wow, kenapa adakan pesta di pagi buta begini?” Tanyaku dengan nada heran.
“Maks, duduklah!” Jawab istrinya.
Dengan perasaan bingung, aku hanya menuruti perintahnya seperti anjing peliharaan. Saya duduk manis di depan Johan. Kulihat mereka sedikit merunduk. Hal itu tentu sangat membantuku agar mereka tak melihat wajahku yang lucu karena kebingungan.
“Maks, bolehkah saya sedikit curhat denganmu?” Tanyanya ragu-ragu.
“Jo, jangan jadi orang asing bagiku. Kita sudah saling kenal sejak duduk di SD dulu. Bahkan saya mencarikanmu calon istri yang sekarang duduk di sampingmu. Bicaralah! Jangan ragu-ragu!.” Jawabku sedikit menasihati.
“Maks, saya merindukan kamu yang dulu. Yang selalu keliling kompleks membangunkan orang sahur. Saya rindu kamu yang mengajakku ke mushalla. Saya rindu maks.” Dia mengawali dengan ucapan tersendak. Dan sayapun menjadi diam seribu bahasa.
“Maks, sampai kapan kau mau seperti ini? Judi, minum, tidak shalat. Kau percaya Tuhan kan Maks. Berubahlah! Sudah cukup kau menyiksa diri. Maks, ini kukatakan bukan berarti saya sudah bosan mengangkatmu dari pinggir jalanan karena mabuk. Bukan itu alasanku Maks. Kamu itu bisa lebih baik Maks, kenapa harus seperti ini?” Lanjutnya sambil menjatuhkan butiran bening dari pelupuk matanya.
Dan inilah saat-saat yang sulit bagiku. Melihat kawanku menjatuhkan air mata karenaku. Karena ulahku yang sering membuatnya susah. Ya, sejak kabur dari rumah, merekalah satu-satunya alasan kenapa saya masih bisa hidup.
“Oke, silahkan makan. Mari kita sahur.” Jawabku simpel.
Warna mukanya kulihat berubah seketika. Terpancar wajah bahagia dari dua insan yang luar biasa yang selama ini merawatku. Mengingatkanku di kala lupa. Mereka lah berdua alasanku untuk hidup.
 10 Juli 2013
Adzan baru saja menggema di setiap pucuk menara mesjid menjemput malam di setiap sudut kota. Seketika orang-orang berpuasa menjadi bahagia. Tuhan telah menjanjikan kebahagiaan bagi mereka. Dan salah satunya diberikan di saat mereka berbuka setelah seharian bertempur melawan hawa nafsu.
Tak kusangka, sudah dua hari saya berpuasa semenjak saya disebut sebagai remaja yang baligh. Saya seperti terlahir kembali. Akhirnya saya bisa merasakan ramadhan walaupun belum spenuhnya. Tetapi sebuah kesyukuran, Tuhan memberikanku kesempatan berkenalan dengannya. Makhluk Tuhan yang penuh ampunan dan berkah, makhluk Tuhan yang disebut Ramadhan.
Malam ini, Johan ingin membuktikan keseriusanku untuk berubah. Dia mengajakku ke mesjid untuk shalat tarwih. Dia mengajakku bertemu dengan orang-orang yang sudah terbiasa melihatku tergeletak di jalan atau tertidur di atas meja judi karena mabuk. Saya tidak tau dia sengaja atau tidak. Tetapi, saya paling benci disebut sebagai orang yang tidak pernah serius.
Baju gamis putih dan sarung abu-abu membalut tubuhku dan peci hitam sebagai penutup kepala. Kulangkahkan kaki kanan masuk ke mesjid seraya mengucapkan basmalah. Doa yang diajarkan ibu untuk memulai yang baik-baik. Kusadari semua mata tertuju kepadaku. Wajar mereka heran, selama ini saya yang hanya menjadi sampah masyarakat datang ke mesjid tanpa perasaan malu-malu. Sesekali kudengar bisikan mereka berucap, “Sudah menjadi sampah masyarakat, apa sekarang mau mengotori masjid?”. Atau ada yang lebih parah mengatakan, “Mungkin dia sedang mabuk berat sehingga dia tersesat masuk mesjid”.
Perih hati ini mendengarnya. Saya lebih senang diiris botol minuman daripada mendengar pembicaraan mereka. Namun, suara syahdu terdengar mengatakan, “Tak baik seperti itu, kita yang sekarang rajin kemesjid bisa tak ada apa-apanya  dibandingkan dia karena kita menceritakannya”. Segera perih ini terobati.
Dia adalah Lutfiah yang berarti lembut. Kelembutannya telah melunakkan kerasnya hatiku semenjak kami duduk di bangku SMA. Tetapi dia adalah wanita yang baik, tak pantas jika air bersih dicampur dengan segelas minuman haram dan najis.
Usai menunaikan shalat sang penceramah pun menyampaikan ayat-ayat Tuhan yang selama ini saya anggap sebagai angin yang berlalu. Kudengarkan dengan baik sambil mengingat kesalahan dan dosaku yang seperti bilangan pasir di tepi pantai.
Pintu taubat itu selalu terbuka bagi siapa saja, dan akan selalu terbuka hingga nyawa hanya tinggal di kerongkongan atau sampai matahari terbit di ufuk barat. Oleh karena itu, seyogyanya kita bertaubat dan mati dalam keadaan beriman. Yakinlah, Allah selalu bersama mereka yang menuju kejalannya.
Demikianlah bebarapa bait kalimat yang selau terngiang-ngiang di telingaku. Menjadi kalimat pamungkas bagiku. Hingga akhirnya saya bisa melalu hari-hari dalam ramdhan.
Malam ini saya berdo’a kepada Tuhan, jika ia tak mengizinkanku hidup membina rumah tangga dengan wanita shalehah. Kuharap Allah mencabut nyawaku setelah bertaubat dan membawa iman.
20 Juli 2013
Saat ini saya memiliki aktifitas baru. Mengaji seusai subuh, shalat lima waktu, dan shalat tarwih di malam harinya. Saya cukup senang melihat Johan dan istrinya bahagia. Paling tidak saya tidak lagi menjadi beban untuk keluarga ini.
Seusai tarwih, seseorang menyapaku.
“Assalamu alaikum.” Sapanya.
“Waalaikum salam.” Jabku sambil berbalik. “Lutfiah!” Sambungku dengan sedikit heran.
“Wah, saya ikut senang bisa melihatmu bergabung dengan kami di mesjid.” Katanya memulai pembicaraan.
“Ya, mungkin ini saatnya saya berubah. Saya sudah cukup menyusahkan banyak orang Jawabku sambil menghela nafas. “Oh ia, bukannya saya malas bicara dengan kamu. Tetapi apa kata orang-orang kalau kamu berjalan dengan seorang pemabuk. Saya duluan ya, assalamu alaikum.” Ucapku sambil mengejar Johan yang berda di depanku.
Begitulah saya menghargainya, paling tidak menjaga nama baiknya  dengan tidak mengajaknya berbicara itu sudah cukup bagiku. 
5 Agustus 2013
Ramdhan sebentar lagi akan berpamitan. Dia akan pergi dengan membawa beribu berkah dan ampunannya. Dia akan pergi bersama beribu kemuliaannya. Dan saya tidak tau, akankah kami akan berjumpa lagi tahu depan.
Di penghujung ramadhan ini, dimana orang bilang sebagai pembebas dari api jahannam, saya berniat untuk pulang kerumah. Sudah lama saya tidak berjumpa kedua orang tuaku. Entah dia masih ingat pernah melahirkan saya yang durhaka kepadanya. Kerinduanku semakin membuncah dan tak sadarkan diri menjatuhkan air mata dikala kulihat mereka di balik bingkai foto.
Masih terngiang di telingaku ketika kutinggikan suaraku di hadapannya dan membuat air matanya menetes. Seketika kurasakan israil hendak memanggilku sebelum kudapatkan ampunan mereka. Saya tak sanggup ketika mendengar petuah ustad bahwa orang durhaka tak akan merasakan surga hingga unta masuk ke lubang jarum.
“Pulanglah Maks! Sudah waktunya.” Kudengar suara Johan bersama istrinya di belakangku.
Segera aku mengemasi pakaianku di bantu oleh mereka berdua. Mereka juga telah memsan mobil untuk aku tumpangi. Sekali lagi  saya berhutang kepada mereka.
Sebelum berangkat, kusodorkan atm kepada mereka. Isinya adalah uang halal yang selama ini kudapat. Kuharap mereka mempergunakannya untuk menyambut lebaran. Namun, dia menolaknya dengan senyuman. “Belikan sesuatu untuk keluargamu di rumah!” Jawabnya sambil menolak pemberianku.
Sesampai dirumah, kulihat sanak saudara sudah berkumpul di rumah. Mata mereka tertuju kepada mobil panther yang baru saja sampai. Rasa penasaran mereka seperti sedang menunggu kedatangan pejabat negara. Aku pun turun dari mobil dengan perasaan gugup.
Segera kumasuk di halaman rumah. Dan ternyata betul, tak ada yang mengenaliku. Ini adalah pertama kali saya menginjak anak tanga rumahku sejak sembilan tahun lamanya kutingalkan. Kulihat ada dua sosok berdiri di depan pintu. Dua sosok yang sudah keriput, sedikit bungkuk dimakan usia, dua sosok yang menangis karena gertakanku, dua sosok yang telah melahirkanku.
Segera kulari dan memeluk kaki mereka sambil menangis terseduh. Tangisan penyesalanku menyadarkan mereka bahwa mereka sedang dipeluk oleh anak mereka yang durhaka. Pelukanku membangunkan mereka bahwa mereka sedang mendengar tangisan anak mereka.
Akankah mereka mengusirku? Akankah mereka tidak mengakuiku? Tidak. Bentakanku, sikap kasarku sudah menjadi sejarah yang tidak terlupakan. Pembangkanganku sudah ia tak ingat lagi, suara kasarku mereka sudah lupakan. Bahkan mereka membalasnya dengan pelukan penuh kasih sama seperti ketika mereka menidurkanku. Ciuman manjanya sama disaat aku masih kecil. Kasih sayangnya tak pernah terhapus oleh perlakuanku. Ternyata benar kasih ibu sepanjang jalan.
8 Agustus 2013
Hari nan fitri telah tiba. Kemenangan sudah di raih selama sebulan penuh berperang melawan musuh sejati kita hawa nafsu. Jika beruntung, kita akan kembali terlahir menjadi manusia yang suci dari dosa dan kesalahan.
Hari ini, saya hendak berkunjung ke rumah Johan dan kerumah Lutfiah untuk silaturahmi. Saya berangkat seorang diri dengan mengendarai mobil yang sama. Jalan berkelok-kelok di lembah bukit menawarkan pemandangan yang indah. Inilah keindahan surgawi di dunia.
Walau beberapa hari berpisah, saya sudah sangat rindu dengan Johan. Orang yang selalu menemaniku dan menuntunku kembali kejalan ilahi.
Begitulah isi diari dari Maks yang sempat kubaca. Id, dia memang datang kerumah kami, setelah itu dia pergi. Katanya dia hendak kerumah temannya. Teman yang sejak dulu dia rindukan. Anehnya, saya sendiri tidak tau siapa yang dia maksud.
Dia mendatangi salah satu rumah yang cukup di kenal di kampung ini. Sejenak ia berdiri di depan rumah panggung itu. Entah dia ragu atau kenapa.Dia pun memberanikan diri menaiki anak tangga dan mengetuk pintu sambil mengucap salam.
Seketika sang tuan rumah menghampirinya dan menyambutnya dengan sebilah badik yang telah tertancap di dada Maks. Darah pun tumpah, mengalir mengotori kesucian hari nan fitri ini. Tubuhnya pun roboh dan ditendangnya hingga jatuh ke tanah.
“Dasar anak tidak tau diri, kau bawa kemana anak gadisku.” Maki seng pemilik badik pencabut nyawa itu. Seketika orang telah berkerumun. Aku pun datang, dan melihat Maks sudah tidak bergerak lagi.
Ini salahku, kupeluk ia dengan erat. Memang sempat beredar kabar kalau Maks membawa kabur anak gadis Daeng Tiro. Karena dua hari setelah Maks kembali kerumah orang tuanya, Luthfiah pamit untuk keperluan kuliah. Tidak kembalinya ia sampai sekarang membuat isu beredar bahwa mereka silariang. Dalam tradisi orang Makassar, balasan bagi mereka yang silariang adalah mati atau diasingkan.
“Maafkan saya kawan, saya telat memberi taumu.” Saya hanya menangis melihatnya. Nafasnya kian berat dan tersengal. Denyut nadinya melemah. Dan kulihat orang-orang tampak bingung hendak menyalahkan siapa.
Tiba-tiba seorang gadis datang. Dia seperti tidak percaya melihat Maks sudah tak berdaya.
”Dia tidak salah tetta. Kami tidak silariang. Saya yang salah terlambat memberi kabar.” Seru wanita itu sambil menahan isak tangisnya.
Semuanya sudah terlambat, kata-kata yang sudah diucapkan tak dapat ditarik kembali, batu yang sudah dilempar tak mungkin kita tahan, dan badik yang telah ditancapkan tak mungkin menyembuhkan luka seketika. Kini tinggal penyesalan dalam diri daeng Tiro atas ketergesa-gesaannya hingga dia menjadi kawan setan.
Nyawanya pun melayang diterbangkan kalimat tauhid. Semoga dia termasuk penduduk surga karena diakhir hidupnya di tutup la ilaha illallah. Israil menjemputnya dengan taubatnya. Ia pergi bersama ramadhan. Dan pastinya tak akan kembali walau ramadhan depan masih akan menyapa. Do’anya terkabul, menjadi orang bertaubat.


Baca Juga

Cara Menghemat Data WhatsApp

Panduan WhatsApp   Cara Menghemat Data WhatsApp . Siapa sih yang tidak tau aplikasi chatting whatsApp? Aplikasi ini sudah tembus ha...