Siapa yang Bodoh
Ketika
sedang libur dan hari kebetulan cerah, salah satu hiburan yang paling cocok
ialah dengan memancing di danau atau di tepi sungai. Mungkin cara ini bisa
menjadi obat bagi kita setelah banyak kesibukan yang kita lalui dalam sepekan.
Segera
kusiapkan peralatan pancing dan setengah kaleng cacing sebagai umpan. Saya
duduk tepat di bawah sebatang pohon. Batangnya rindang dan angin sepoi
membuatku semakin enjoy. Saraf yang tadinya tegang sedikit demi sedikit meregang
menikmati suasana tepi danau.
Tidak
lama kemudian, umpanku dimakan ikan. Seketika kutarik dan seekor ikan
tergantung di mata kail. Segera kuambil ikan tersebut dan umpannya asa ganti.
Tidak lama kemudian kailku kembali bergetar. Kali ini ikannya lebih besar.
Segera kutarik dan kuambil ikan tersebut.
Sesaat
kemudian kulemparkan kembali mata kail dengan umpan caci ke dalam air. Saya
sedikit termenung. Sambil memandang ke danau, tiba-tiba terlintas di pikiranku
tentang ikan. Betapa bodohnya mereka. Mungkin usia moyang mereka bisa saja
lebih tua dari mata kail yang saya gunakan ini. Bentuk kail ini pun dari dulu
hingga sekarang tidak pernah ada revisi atau inovasi. Akan tetapi, tetap saja
ikan selalu tertipu hingga hidup mereka berakhir di atas penggorengan adu
panggangan. Atau mungkin suatu kebanggaan bagi mereka jika hidup di ujung kail.
Entahlah, saya bukan menteri perlindungan hewan.
Seketika
saya ingin bertanya kepada ikan-ikan tersebut dan memberitahukan betapa
bodohnya mereka. Padahal kami manusia dikatakan pintar jika sering mengkonsumsi
ikan. Bagaimana mungkin makhluk bodoh seperti ikan dapat mencerdaskan manusia.
Tiba-tiba
terdengar sebuah suara. “ Tahukah kamu kenapa kami selalu tertipu? Karena tidak
pernah moyang kami bercerita kalau kail yang kalian buat adalah tanda bahaya.
Ketika kami tertangkap, kalian langsung menjadikan kami santapan hingga kami
tak sempat memberitahukan sanak keluarga kami tentang kail kalian itu. Tidak
pernah juga Tuhan mengirimkan utusannya
kepada kami dan menyampaikan kalau kail itu adalah tipuan. Yang kami lihat
hanyalah umpan lezat sebagai penyambung
hidup. Mata kail itu pun tidak pernah menyatakan kepada kami kalau mereka
adalah musuh kami. Jadi jangan salahkan kami jika kami sampai sekarang masih
tertipu”.
Masuk
di akal juga kata-katanya. Kemudian dia melanjutkan. “Kami berbeda dengan
manusia. Moyang mereka selalu bercerita kalau iblis adalah musuh mereka. Mereka
selalu dikelilingi orang-orang yang selalu memberitahukan bahwa iblis adalah
ancaman bagi mereka. Tuhan juga mengutus rasul dan nabi ditambah kitab yang
mengabarkan bahwa iblis adalah musuh nyata bagi manusia. Bahkan iblis pun
pernah berkhotbah bahwa mereka adalah musuh nyata dan akan menyesatkan mereka.
قال رب بما
اغويتنى لأزينن لهم فى الارض ولأغوينهم اجمعين
Iblis berkata:
"Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku
akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan
pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya (la-Hijr :39).
Tapi toh manusia yang pintar dan
dikaruniai akal itu sesampai sekarang masih tertipu. Bolehkah saya bertanya
manusia, siapakah yang lebih bodoh?”
Sebentar lagi
akan datang bulan penuh barakah. Saatnya kita buktikan bahwa ikan salah menilai
manusia.
Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment