Perjalanan Waktu
Kutulis sajak
ini untuk diriku
Sedang kukenang
masa indahku,
Kukenang pula
kebodohanku atau mungkin tidak.
Delapan tahun
masa telah membawa kita
Memperkenalkan
sebuah tantangan kepada kita
Membawa kita
kepada sebuah titik yang lebih terang
Atau mungkin
gelap
Delapan tahun
telah berlalu di saat kumulai mengenalimu
Mengenal dirimu
dengan segala kepolosanmu
Mengenal dirimu
dengan segala cerita lucumu
Mengenalmu,
mengenalmu, mengenalmu
Delapan tahun
masa telah membawa kita
Dan masa telah
membawamu ke sosok yang lain
Sosok yang
makin kukenali atau mungkin kau telah berganti
Berganti dari
dirimu yang dulu.
Kaulah melati
dengan wangi semerbak itu,
Pesonamu cukup
mematahkan pandanganku dengan
Sekuntum bunga
mawar dengan duri di tangkainya
Kaulah melati
itu dengan segenap kesederhanaan.
Ingatkah kau,
ketika kukatakan padamu
Aku hanyalah
ilalang di tepai jurang
Sendiri dalam
kesepian, sunyi dan senyap
Tahukah kau di
saat kuberucap
Aku
merindukanmu di kala malam menjemput
Ah, mungkin
ruang rasaku mulai terusik.
Di saat masa
semakin jauh membawa kita
Kurubah
keterpaksaan ini kepadamu
Aku semakin
merindukanmu dalam malam-malam panjang ini
Kuingin kau
menyertaiku dalam tapa cintaku
Agar aku bisa
menyentuh hatimu meski hanya sekeping
Agar aku bisa
ada untukmu.
Ingatkah kau
dengan senja di tepi danau, Ingatkah kau dengan hidangan yang kita telah
nikmati
Ingatkah kau
dengan tamasya kita
Kenangkanlah
masa-masa indah kita
Yang tak
seorang pun dapat menghapusnya
Tidak juga aku
Masa telah
membawa kita semakin jauh
Bahkan
terkadang kita terpisah dengan dimensi ruang dan waktu
Bahkan
terkadang hiruk pikuk perkotaan membuat aku alpa akan dirimu
Itu yang kau
ucap.
Entah aku salah
telah menaruh rasa kepadamu
Dan mengajakmu
untuk semakin jauh menyelami rasa ini
Dan ketika
sebuah lamunan terkadang mengganggu pikiranmu
Membawamu
keluar dari tapa cinta kita
Dan titik
terang yang akan kita tuju semakin redup
Mungkin engkau
sudah mencapai langit kesempurnaanmu
Alam telah
menerbangkanmu membumbung tinggi menjejaki langit
Sedang aku
seperti orang-orangan sawah yang hanya tertiup angin
Tak bisa
berbuat untuk mengikutimu.
Alam telah
mengikat kita, hanya kita
Rasa yang kita
pancarkan mungkin dalam tingkat energi yang berbeda
Maka terbanglah
engkau dan keluarlah dari tapa cintamu dan carilah dunia yang lebih terang
Dan jangan
panggil sosok untuk mengganggu upacara perpisahan kita
Beranjaklah
dari tapa cinta kita, hanya kita
Sedang aku
tetap di sini, sedikit belajar untuk memanggilmu kembali
Tapi
entahlah.....
Akhirnya,
maafkanlah segala kebodohanku
Sungguminasa, 15 Februari 2014

No comments:
Post a Comment