Pemimpin dalam Kacamataku
Sudah enam puluh delapan tahun lamanya kita menikmati masa
kemerdekaan. Terbebas dari penjajah dan penindasan yang mereka lakukan. Akan
tetapi sadar atau tidak, sebagian besar masyarakat kita seolah menjadi turis di
negeri sendiri. Masalah ekonomi, sosial, maupun politik sering kali menghantui
mereka.
Semua permasalahan bangsa kita yang datang silih berganti sangat
berbanding lurus dengan kemampuan seorang pemimpin dalam membawa kapal yang
bernama Indonesia ini. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah, apakah selama
ini kita salah dalam menentukan pemimpin? Tetapi dengan melihat melihat realita
yang terjadi, sepertinya kita betul-betul membutuhkan pemimpin untuk bangsa
ini. Ironisnya sempat beredar provokasi yang mengatakan bahwa
“Sukarno membuktikan bahwa pahlawan bisa menjadi pemimpin”
“Suharto membuktikan bahwa anak petani bisa menjadi presiden”
“Habibi membuktikan bahwa teknokrat bisa menjadi pemimpin”
“Gusdur membuktikan bahwa ulama bisa menjadi pemimpin”
“Megawati membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin”
“SBY membuktikan bahwa kita tidak membutuhkan presiden”.
Hal-hal seperti ini tentu tidak muncul begitu saja. Ibarat asap
tidak akan muncul tanpa ada api. Hal ini paling tidak sebagai sinyal bahwa
negara ini betul-betul butuh pemimpin. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah,
bagaimana pemimpin yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini? Nah hal itulah yang
ingin sedikit saya angkat pada kesempatan kali ini.
Dua kandidat pemimpin kita saat ini dikatakan sebagai calon ideal
dalam membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Setiap kandidat mengklaim
bahwa merekalah yang paling pantas memimpin kita untuk membangun bangsa ini.
Hal yang biasa kita dengar lima tahun sekali. Sayangnya suka atau tidak hanya
satu di antara mereka yang akan terpilih.
Dalam islam Allah memerintahkan kita dalam memilih pemimpin hendak
mendahulukan dua kriteria. Dua kriteria yang dimaksud ialah amanah dan kuat.
Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Qashash yang berbuyi:
“karena Sesungguhnya
orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang
yang kuat lagi dapat dipercaya".
Permasalahan
sekarang ialah, kita sangat sulit mencari pribadi yang kuat lagi dipercaya atau
amanah. Dan semoga kedepannya akan datang pemimpin yang kita dambakan bersama.
Selain itu,
sepertinya pemimpin kita selama ini alpa akan satu hal. Apa itu, mereka lupa
memasukkan pengembangan sumber daya perempuan dalam daftar visi misinya. Yang
selalu digaungkan ialah pendidikan, ekonomi, militer, dan permasalahan lainnya.
Pembangunan sumber daya perempuan hanya menjadi visi tersirat bagi setiap
kandidat. Padahal perannya nanti tidak diharapkan tersirat.
Kenapa saya
katakan demikian. Karena perempuan memegang peranan penting dalam membangun
negara kita ini. Memang tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi jika kita membuka
lembaran sejarah, perempuan pernah memberikan andil yang besar dalam perjalanan
bangsa ini. Terakhir sejarah mencatat ketika GERWANI menjadi poros penting
dalam pemerintahan Soekarno. Dan jelas bahwa saat itu Indonesia dikatakan macan
Asia. Akan tetapi setelah itu, Indonesia makin terpuruk dan kita semakin
tertatih hingga masa reformasi ini. Hingga tak salah jika orang-orang menjuluki
negara kita sebagai komodo Jablay.
Rasul telah memberikan
resep bahwa perempuan adalah tiang sebuah negara, jika perempuan itu baik maka
baiklah negara itu, begitupun sebaliknya. Jadi yang seharusnya menjadi visi
utama setiap pemimpin ialah pembangunan kualitas perempuan.
Emansipasi yang
digelorakan akhir-akhir ini seperti sebuah fatamorgana. Seolah memberikan hal
yang positif namun kenyataannya tidak. Perempuan yang sebelumnya hanya menjadi penikmat
hasil korupsi, kini sudah banyak menjadi pelaku korupsi. Mungkin inilah dampak
dari emansipasi. Padahal emansipasi mengajarkan kita bahwa perempuan dan
laki-laki dicipta bukan untuk saling diadu siapa lebih maju, akan tetapi saling
membantu paling tidak dalam doa penghulu bahkan dalam membangun bangsa ini.
Kasus korupsi
dan dekadensi moral yang menimpa kalangan pemuda merupakan dampak dari
kurangnya perhatian pemerintah terhadap perempuan. Seandainya ada sosok
perempuan yang hebat di samping seorang pemimpin, maka bangsa ini akan sepi
dari kasus korupsi. Ketika seorang pemegang kekuasaan mulai tergiur dengan
harta, maka perempuanlah yang menjadi hakim yang memutuskan. Korupsi atau
istigfar. Tidak akan mungkin ketika seorang suami mulai pusing dengan
pekerjaannya, dia akan datang ke bapaknya untuk meminta solusi, akan tetapi
sang istrilah yang memberikan kekuatan. Ketika seorang mahasiswa tahap akhir
mulai mulai frustrasi dengan skripsi, maka tentu tidak akan ke ayahnya, karena
bisa saja uang bulanan terputus. Akan tetapi dia akan datang ke ibunya atau
pacar, karena merekalah tempat kita bersandar ketika jatuh, tempat kita
membasuh peluh dan mendapat semangat baru untuk hidup yang lebih maju.
Siapakah yang
menemani Adam AS di awal ujiannya di muka bumi, dialah Siti Hawa. Siapakah yang
menguatkan Nabiullah Muhammad SAW di awal kenabiannya, dialah Siti Khadijah.
Dibalik pemimpin yang sukses pasti selalu ada perempuan yang baik dan pintar.
Itulah yang perlu kita bangun sekarang.
Bahkan yang
lebih ironi ialah, bangsa ini bisa saja kehilangan masa depan jika pemimpin
kita tidak memberikan perhatian khusus dalam meningkatkan sumber daya
perempuan. Pengembangan pendidikan hanya akan
menjadi slogan tanpa makna. Ingin meningkatkan pendidikan tetapi
perempuan tidak tau mengganti popok anaknya. Ini sama saja, mau menyeberangi
lautan tetapi takut ombak.
Saat ini,
banyak bermunculan sekolah alam. Sekolahnya di sulap jadi hutan. Padahal
ironisnya masih banyak orang sekolah di hutan butuh gedung. Kenapa, karena dikatakan pendidikan model seperti
inilah yang cocok. Mengembalikan ke alam. Akan tetapi ada hal yang kita lupa,
pendidik alami yang paling cocok dan seharusnya menjadi perhatian ialah IBU.
Kenapa
demikian, karena perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.
الام
مدرسة الاولى, اعددتها اعددت جيل طيب الاعراق
Perempuan ialah
sekolah pertama, jika kau mempersiapkannya maka engkau menyiapkan generasi yang
berkualitas tinggi.
Jadi gagalnya kita
dalam mempersiapkan perempuan, maka berarti gagal pula kita dalam membangun generasi
penerus. Jika demikian jadinya, maka saya akan semakin ragu dengan perkataan
Soekarno, berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia. Buktinya,
sudah terdapat 4 lusin ABG yang tergabung dalam JKT 48, namun belum mampu
membuat kumis tetangga bergetar.
Sebagai
kesimpulannya, seharusnya setiap pemimpin memberikan ruang nyata dalam
pembangunan kualitas perempuan. Karena mungkin seperti inilah pesan dari
emansipasi itu.
No comments:
Post a Comment