Wednesday, June 11, 2014

Aku, Kamu, dan Kisah Ini



Perjalanan Waktu
Kutulis sajak ini untuk diriku
Sedang kukenang masa indahku,
Kukenang pula kebodohanku atau mungkin tidak.
Delapan tahun masa telah membawa kita
Memperkenalkan sebuah tantangan kepada kita
Membawa kita kepada sebuah titik yang lebih terang
Atau mungkin gelap

Delapan tahun telah berlalu di saat kumulai mengenalimu
Mengenal dirimu dengan segala kepolosanmu
Mengenal dirimu dengan segala cerita lucumu
Mengenalmu, mengenalmu, mengenalmu

Delapan tahun masa telah membawa kita
Dan masa telah membawamu ke sosok yang lain
Sosok yang makin kukenali atau mungkin kau telah berganti
Berganti dari dirimu yang dulu.

Kaulah melati dengan wangi semerbak itu,
Pesonamu cukup mematahkan pandanganku dengan
Sekuntum bunga mawar dengan duri di tangkainya
Kaulah melati itu dengan segenap kesederhanaan.

Ingatkah kau, ketika kukatakan padamu
Aku hanyalah ilalang di tepai jurang
Sendiri dalam kesepian, sunyi dan senyap
Tahukah kau di saat kuberucap
Aku merindukanmu di kala malam menjemput
Ah, mungkin ruang rasaku mulai terusik.

Di saat masa semakin jauh membawa kita
Kurubah keterpaksaan ini kepadamu
Aku semakin merindukanmu dalam malam-malam panjang ini
Kuingin kau menyertaiku dalam tapa cintaku
Agar aku bisa menyentuh hatimu meski hanya sekeping
Agar aku bisa ada untukmu.

Ingatkah kau dengan senja di tepi danau, Ingatkah kau dengan hidangan yang kita telah nikmati
Ingatkah kau dengan tamasya kita
Kenangkanlah masa-masa indah kita
Yang tak seorang pun dapat menghapusnya
Tidak juga aku

Masa telah membawa kita semakin jauh
Bahkan terkadang kita terpisah dengan dimensi ruang dan waktu
Bahkan terkadang hiruk pikuk perkotaan membuat aku alpa akan dirimu
Itu yang kau ucap.

Entah aku salah telah menaruh rasa kepadamu
Dan mengajakmu untuk semakin jauh menyelami rasa ini
Dan ketika sebuah lamunan terkadang mengganggu pikiranmu
Membawamu keluar dari tapa cinta kita
Dan titik terang yang akan kita tuju semakin redup
Mungkin engkau sudah mencapai langit kesempurnaanmu
Alam telah menerbangkanmu membumbung tinggi menjejaki langit
Sedang aku seperti orang-orangan sawah yang hanya tertiup angin
Tak bisa berbuat untuk mengikutimu.

Alam telah mengikat kita, hanya kita
Rasa yang kita pancarkan mungkin dalam tingkat energi yang berbeda
Maka terbanglah engkau dan keluarlah dari tapa cintamu dan carilah dunia yang lebih terang
Dan jangan panggil sosok untuk mengganggu upacara perpisahan kita
Beranjaklah dari tapa cinta kita, hanya kita
Sedang aku tetap di sini, sedikit belajar untuk memanggilmu kembali
Tapi entahlah.....
Akhirnya, maafkanlah segala kebodohanku
Sungguminasa, 15 Februari 2014

Kurikulum 2013 dan Budaya Mencontek


Mudah Menjadi Pintar
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang akan diterapkan untuk menunjang pendidikan di Indonesia. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, kurikulum ini lebih menekankan ranah afektif atau sifat dan perilaku peserta didik. Selain itu, setiap pendidik lebih memahami makna kontekstual dari topik yang diajarkannya.
Ada yang menarik dan menggelitik pikiran saya. "Saya sampai tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang pendidik yang tumbuh dengan budaya mencontek bisa mendidik siswa untuk tidak mencontek". Kurang lebih seperti itulah kata-kata dosen tempo hari.
Mencontek merupakan perilaku yang sudah membudaya dan mendarah daging di kalangan siswa. Ujian tanpa mencontek ibarat sayur tanpa garam. Nilai yang bagus tak lengkap rasanya tanpa mencontek. Padahal jika kita hendak berpikir, perilaku inilah yang bisa memancing kita untuk mencoba kecurangan yang lebih besar.
Semuanya terasa serba salah. Mungkin inilah hasil didikan yang lebih menekankan ranah kognitif atau kecerdasan intelektual siswa. Parahnya lagi, terkadang kecerdasan siswa hanya dinilai dari hasil ulangan atau ujian. Sehingga mau tidak mau, agar kecerdasannya diakui diakui maka sebagian dari mereka menghalalkan segala cara, salah satunya adalah mencontek.
Namun, ada yang unik saya rasa. Beberapa siswa lebih memilih mengosongkan kertas jawabannya daripada mencontek. Suatu sikap yang patut dibanggakan. Memilih untuk dikatakan sebagai orang bodoh daripada membeli kecerdasan dengan harga yang hina.
Yang menjadi masalah, hal itu tetap terulang setiap terjadi ujian. Memang membanggakan jika ujian tanpa mencontek. Akan tetapi lebih indah jika nilai yang bagus diperoleh tanpa kecurangan. Kita tidak boleh terlalu bangga dengan satu prestasi. Bukankah orang yang rugi jika hari kemarin sama dengan hari ini.
“Tiada hari tanpa perubahan, tiada hari tanpa penyempurnaan.”

Baca Juga

Cara Menghemat Data WhatsApp

Panduan WhatsApp   Cara Menghemat Data WhatsApp . Siapa sih yang tidak tau aplikasi chatting whatsApp? Aplikasi ini sudah tembus ha...