Seharusnya pagi yang dingin seperti ini, saya menyerut kopi dan sepiring pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Tetapi keadaan memaksaku untuk tidak melakukan hal itu. Jauh dari kampung sudah cukup menjadi bukti kalau keinginanku tadi hanyalah mimpi di pagi buta.
Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel yang berjudul Manusia Modern hasil buah tangan Bapak Sarlito Wirawan Sarwono salah seorang Guru Besar Psikologi UI. Dalam tulisan tersebut, bapak kita ini banyak menyinggung bagaimana membangun bangsa kita yang masih merangkak menuju kejayaan.
Sejenak saya teringat bagaimana membangun almamater saya tercinta. Hemat saya, ramuan Bapak kita tersebut kurang lebihnya cocok untuk membangun almamater saya yang sedang berpacu menuju masa gemilangnya (menurutku).
Banyak hal yang telah dilakukan pihak sekolah dalam membangun almamater kebanggaan saya tersebut. Banyak hal yang dapat dinikmati oleh siswa sebagai bukti keseriusan pihak sekolah dalam membangun almamater yang angat saya cintai tersebut. Mulai dari membangun RKB, asrama yang memadai, Baruga, taman-taman dan masih banyak lagi. Adapula pemecatan beberapa siswa yang dianggap sudah tak mampu berada di lingkungan sekolah. Hal ini sebagai bukti ketegasan pihak sekolah yang ingin membangun almamater yang sangat saya cintai.
Akan tetapi membangun sekolah tersebut tidak cukup hanya oleh pihak sekolah. Akan tetapi siswalah yang menjadi soko guru utama dalam mebangun sebuah sekolah . Tugas dari pihak sekolah adalah menciptakan suasana yang kondusif agar siswa mampu mengekspresikan diri mengembangkan bakat dan mintanya demi kemajuan sekolah. Karena banyak siswa yang keadaannya sama saja sejak pertama menginjakkan kakinya di sekolah hingga ia selesai. Di antara mereka hobi tidur dikelasnya awet hingga selesai dan bakatnya pun tidak kelihatan. Bahkan ironisnya, terkadang ada siswa yang bakatnya mati karena tidak adanya susana yang kondusif untuk meningkatkan bakatanya secara optimal. Padahal kita ketahui bahwa setiap anak terlahir spesial dengan bakatnya yang luar biasa.
Dalam tulisan tersebut disebutkan pula karakteristik manusia modern versi Alex Inkeles ((Sosiolog Harvard) yaitu: 1) Menerima ihwal baru dan terbuka untuk perubahan, 2) Bisa menyatakan pendapat atau opini mengenai diri sendiri dan lingkungan serta dapat bersifat demokratis, 3) Menghargai waktu dan berorientasi ke masa depan daripada masa lalu, 5) Percaya diri, 6) Punya perhitungan, 7) Menghargai harkat hidup manusia, 8) Lebih percaya kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, 9) Menjunjung tinggi keadilan yaitu bahwa imbalan harus sesuai dengan prestasi.
Secara teoritis sembilan ciri di atas sudah cukup pantas untuk diaplikasikan pada masyarakat sekolah. Apalagi keluaran pesantren di tuntut untuk melebur kedalam kehidupan masyarakat yang makin kompleks. Dengan hal ini, di harapkan semua elemen mampu berpartisipasi dalam membangun almamater yang sama dicintai masyarakatnya.
Bersambung....
No comments:
Post a Comment